Fotografer: Agan Harahap Ahmad Deny Salman Davy Linggar Hengki Koentjoro Imelda Mandala Jay Subijakto Jim Allen Abel John Suryaatmadja Kemal Jufri Oscar Motuloh Sutrisno Wimo Ambala Bayang
Kehidupan budaya urban dengan imajinasi global menjadi salah satu arus utama dalam tiap kajian budaya saat ini. Walaupun tak semua pengamat budaya berpendapat bahwa globalisasi menciptakan wajah budaya yang seragam. Namun globalisasi menyisakan pertanyaan-pertanyaan pada nilai-nilai lokal kehidupan sebuah bangsa. Interaksi budaya dalam suatu wilayah sudah pasti bersinggungan dengan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya dalam suatu masyarakat, terutama di perkotaan atau lebih tepat dengan sebutan metropolitan. Maka pameran Urbantopia juga diharapkan memberikan gambaran besar bagaimana wajah masyarakat perkotaan di era global, mencakup realita, imajinasi, bahkan impian-impian atau utopia-nya.
Lewat karya-karya fotografi (dan foto-media), oleh dua-belas fotografer, kita disuguhkan bagaimana cara pandang mereka melihat masyarakat dan budaya urban saat ini, dengan pengamatan cermat terhadap fakta sekaligus dengan penuh imajinatif dan juga olahan artistik yang lanjut. Para praktisi fotografi ini menghadirkan beragam subyek dan bentuk yang beragam dan beberapa lebih cenderung melampaui berbagai aliran yang konvensional. Apakah itu foto-jurnalistik, salon, fashion, periklanan dan lain sebagainya. Tapi hal ini juga sekaligus menunjukan gambaran bagaimana fotografi kontemporer ingin menembus batas antara yang bukan seni dan yang seni, menghampiri suatu pendekatan terhadap konsepsi konsepsi estetika yang mutakhir.
SUATU ketika Njoto pernah berkata: Barangsiapa masih berkata juga bahwa seni itu non politik, sesungguhnya dia itu reaksioner.
Pemimpin Redaksi Harian Rakjat, petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI), pendiri Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA), sekaligus politikus yang juga berkhidmat sebagai seniman dan musisi itu sangat meyakini bahwa budaya, termasuk ranah sastra dan seni, adalah elemen pendukung yang vital untuk membangun kehidupan bernegara.